(Sebuah cerpen)
Pagi yang dingin di
bulan november dan hujan pertama telah turun. Seorang lelaki dengan
cangkir kopi berdiri di balkonnya di lantai dua sebuah ruko di
pinggiran Jakarta,
menatap senja yang
menampilkan warna jingga dan kemerahan, melimpahkan warna keemasan
yang memoles kisi-kisi besi dan tubuhnya yang setengah telanjang,
menatap puncak-puncak gedung dan jalanan yang ramai di bawah, ke arah
timur ia bisa melihat kendaraan yang terjebak macet berjalan merayap
bagaikan ular yang berjalan lambat menuju sarangnya, ke barat, atap
sebuah mal yang melengkung menampilkan keindahan yang terpoles indah
dengan sapuan warna keemasan dari cahaya senja. Tetapi, lelaki itu
tidak sedang menatap ke timur atau pun barat. Ia menatap ke bawah, ke
arah payung merah yang melindungi seseorang di bawahnya dari
rintik-rintik, dan ia sedang berpikir.Haruskah ia mencoba mencari
cinta lagi? Tangan kanannya mencengkram kuat-kuat kisi-kisi pagar
besi, melepaskannya, meminum kopinya, lalu mencengkram kuat-kuat,
melepaskannya lagi. Apakah masih ada kesempatan baginya? Apakah
harus?
Senja masih belum
hilang, keindahan memang tak pernah abadi, keindahan selalu tercipta
sesaat, timbul tenggelam. Apakah itu hakekat keindahan? Menampilkan
warna-warnanya yang menggoda yang kemudian perlahan lahan menggiring
kita menuju kegelapan. Senja masih belum hilang, ketika telepon
genggam di kantong celananya bergetar, melantunkan lagu Romance de
Amor dalam nada monophonic. Tetapi dia tidak
peduli, atau
pura-pura tidak peduli, matanya masih menatap payung merah itu dengan
tatapan setengah terbuka. Rintik-rintik hujan bertambah, namun
tubuhnya yang setengah telanjang dibiarkannya tertetesi air hujan.
Dering telepon genggamnya berhenti, dilihatnya sebuah nama perempuan,
ya.. perempuan yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia memutuskan
untuk tidak menemui perempuan itu lagi. Perempuan itu sangat cantik
dan mungkin telah dimiliki seorang pria. Bisa jadi pula perempuan itu
sama sekali tidak tertarik padanya. Maka, ia putuskan untuk tidak
menemuinya lagi. Ia hanya tau sedikit mengenai perempuan itu, tetapi
senyuman itu, tawa itu, dan penggunaan kata-kata yang cerdas itu.
Ia pertama kali
bertemu dengannya di sebuah pertunjukan teater di TMII, saling
bertatap muka di muka pintu masuk, duduk bersama di deretan kursi
yang strategis, dan secepat itu hatinya terketuk, tak berdaya oleh
jari putih perempuan itu, oleh kata-katanya yang cerdas dan suaranya
yang merdu. Sepanjang pertunjukan mereka berdebat mengenai tokoh dan
adegan dalam teater, kalimat-kalimat pun melucur deras dari mulut
lelaki yang pendiam itu. Mereka bertukar nama dan nomor telepon,
saling mengucapkan selamat tinggal dan berjanji untuk bertemu lagi.
Setelah pertemuan itu mereka jadi sering bertemu, di setiap
pertunjukan teater maupun perlucuran buku-buku sastra. Tetapi
kedekatan itu hanya sebatas teman mengobrol, teman yang sama-sama
memiliki minat di bidang sastra, tak pernah sekalipun mereka makam
malam atau berjalan-jalan keluar ke sebuah kafe atau menikmati
lantunan lagu-lagu jazz di JCC, mereka hanya berjabat tangan lalu
mengucapkan salam perpisahan. Sampai pada suatu saat lelaki itu
bertemu dengan perempuan itu di jalan, lalu mengajaknya minum teh
bersama di sebuah
kafe. Mereka
berbincang-bincang tentang perkejaan si perempuan di butik dan si
lelaki sebagai seorang penulis lepas. Satu jam kemudian perempuan
itu menerima telepon,
wajahnya yang merona
dan cara bicaranya yang berubah telah menjadi tanda bagi si lelaki
untuk harus mundur. Perempuan itu mengatakan ia harus bertemu dengan
seseorang, mengucapkan salam perisahan, mereka berjabat tangan.
Lelaki itu menempuh perjalanan pulang secepat ia mampu, merasa hampa
sepanjang perjalanan, naik ke kamarnya di lantai dua di sebuah ruko,
berdiri di balkon, dan menatap senja yang keemasan dengan perasaan
sesak.
Kali ini senja
telah mulai menghilang, warna-warna jingga telah mulai berganti
dengan cahaya merah keemasan. Planet Venus yang terang benderang
muncul di dekat bulan, seolah menjadi petunjuk bagi setiap manusia di
bumi yang kehilangan arah dalam hidupnya. Payung merah tadi telah
hilang diantara kerumunan orang-orang yang bergerak pulang menuju
rumahnya, tapi dia lupa kapan hilangnya. Pikirannya telah menyita
separuh kesadarannya.
Udara makin dingin,
namun ia enggan untuk masuk. Ia ingin menatap senja lebih lama lagi,
ia ingin menikmati keindahan ini sampai benar-benar habis. Tubuhnya
yang gempal dicondongkannya kedepan, ia menatap senja yang perlahan
memudar dengan malas.Baginya keindahan sama semunya dengan waktu,
kita tak pernah tau dengan pasti apa itu keindahan yang sering kali
muncul dan tenggelam.
Perasaan yang
dimilikinya pun tak benar-benar dia ketahui, selama ini ketika dia
bangun pagi dia merasa jijik melihat perutnya yang gempal bertumpuk
lemak menggelayut, dan ketika menatap wajahnya di cermin, dia menatap
sebuah wajah yang kehilangan gairahnya dengan warna hitam di bawah
mata dan rambut yang tak pernah
tersisir rapi.
Mungkin inilah yang membuatnya selalu tidak bisa menerima dirinya
sendiri, dia selalu berdiri di kegelapan atau menyendiri diantara
teman-temannya.
Sepanjang hidupnya
dia tidak pernah merasa dicintai, bahkan dia takut untuk mencintai.
Hatinya mungkin lebih sering terluka dibanding bahagia, tetapi
perempuan itu?
Dia menatapnya
dengan wajah yang sama ketika dia menatap sebuah buku bagus di toko
buku, tapi apa keindahan itu nyata? Lelaki itu bingung dengan
perasaannya, bimbang
karena seorang
perempuan yang terlalu cantik baginya tersenyum dan menatapnya
sebagai seorang lelaki. Lelaki yang sepanjang hidupnya tidak pernah
mau menerima siapapun bahkan dirinya sendiri, bahkan sekedar untuk
berkaca di etalase toko. Lelaki itu telah terjebak ke dalam
perasaanya sendiri, dia telah menilai segala sesuatu dari
dirinya sendiri. Di
dunia semacam itu, dia tidak pernah bisa berhenti menghakimi dirinya
sendiri, kenyataan baginya hanyalah sebuah ilusi yang tidak begitu
jelas maknanya, yang datang bagaikan mimpi buruk di tengah malam
badai, dan dia akan selalu berdiri di balkon kamarnya entah untuk
yang kesekian kalinya.
Senja yang semu itu
makin lama makin menghilang, membawa malam kepada lelaki yang berdiri
di balkon itu. Kopi di cangkirnya telah dingin semenjak tadi,
perlahan-lahan dia membawa masuk tubuhnya ke dalam, menutup pintu.
Sayup-sayup
terdengar lagu dari penjual VCD di pinggir
jalan…
“ku tak tau apa
yang terjadi…”
“antara aku dan
kau….”
“yang ku tau
pasti… “
“ku begitu…
mencintaimu…”
Bandar Lampung